Tampilkan postingan dengan label adab-adab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label adab-adab. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Desember 2012

Mengunakan Nama Samaran (tak dikenal)

Fenomena(1) menggunakan nama bukan dengan nama yang dikenal banyak terjadi di sebagian kalangan dengan berbagai alasan dan dorongan. Ada yang karena iseng atau karena namanya tidak kearaban, ia pun mengganti namanya dengan nama kearaban tanpa mengumumkan sebelumnya. Hal semacam ini banyak dijumpai di facebook, twitter, dan selainnya.

Lantas bagaimana dengan kun-yah(2)? Banyak orang yang salah faham dengan penggunaan kun-yah yang dianjurkan, menurut sebagian ulama. Mereka langsung menelan mentah-mentah hukum tersebut tanpa mempertimbangankan hadits-hadits yang melarang mengenakan nama yang tidak dikenal. Na’am, sah-sah saja mengenakan kun-yah jika memang kun-yah tersebut dikenal, adapun jika tidak, maka sebaiknya menyertakan namanya yang masyhur setelah atau sebelum kun-yahtersebut. Penjelasan lengkapnya akan datang, insya Allah.

Sabtu, 15 Oktober 2011

Adab-adab Ziarah Kubur

Abu ‘Abdillah Muhammad bin Abu Bakr Az Zur’i rahimahullah pernah berkata, “Memuliakan mayit yang berada di kubur serupa dengan memuliakannya di rumah yang ditempati semasa hidupnya di dunia, karena kubur yang dia tempati saat ini telah menjadi kediaman (baru) baginya”[1].
Kita layak memperhatikan apa yang beliau katakan. Perkataan beliau tersebut menunjukkan seorang muslim meski telah wafat, berhak untuk mendapatkan perlakuan santun dari saudaranya yang masih hidup sebagaimana perlakuan tersebut ia dapatkan semasa hidupnya di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang santun dan sangat memperhatikan hak-hak sesama penganutnya, meskipun mereka tidak lagi hidup di dunia ini.
Faktor yang memperkuat kenyataan tersebut adalah Islam telah mengatur berbagai adab yang berkaitan dengan praktek ziarah kubur, setiap muslim sepatutnya memperhatikan berbagai adab tersebut. oleh karena itu, secara ringkas akan kami paparkan beberapa adab ziarah kubur yang dapat kami kumpulkan disertai dengan berbagai dalil dari al Qur-an dan sunnah nabi yang shahih diiringi dengan pernyataan para ulama. Berikut beberapa adab ziarah kubur yang berhasil kami kumpulkan.
Ikhlas dan Mengharapkan Pahala dari Ziarah Kubur yang akan Dilakukan

Dijawabkah Salam Oleh Ahl Kubur ?


Hadits : Tidaklah Ada Seorang Pun Yang Melewati Kuburan Saudaranya Yang Mukmin….


Telah berkata Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah :
أخبرنا أبو عبد الله عبيد بن محمد قراءة مني عليه سنة تسعين وثلاثمائة في ربيع الأول قال: أملت علينا فاطمة بنت الريان المستملي في دارها بمصر في شوال سنة اثنتين وأربعين وثلاثمائة قالت: حدثنا الربيع بن سليمان المؤذن، صاحب الشافعي، قال: حدثنا بشر بن بكير، عن الأوزاعي، عن عطاء، عن عبيد بن عمير، عن ابن عباس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "ما من أحد مر بقبر أخيه المؤمن كان يعرفه في الدنيا فسلم عليه إلا عرفه ورد عليه السلام
Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah ‘Ubaid bin Muhammad secara qira’atdariku kepadanya pada tahun 390 H bulan Rabi’ul-Awwal, ia berkata : Telah mengimlakan/mendiktekan kepada kami Faathimah bintu Ar-Rayyaan Al-Mustamiliy di rumahnya di Mesir pada bulan Syawal tahun 342 H, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ar-Rabii’ bin Sulaimaan Al-Muadzdzin, salah seorang shahabat Asy-Syaafi’iy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Bukair, dari Al-Auzaa’iy, dari ‘Athaa’, dari ‘Ubaid bin ‘Umair, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Tidaklah ada seorang pun yang melewati kuburan saudaranya yang mukmin yang ia ketahuinya sewaktu di dunia, lalu ia mengucapkan salam kepadanya, kecuali saudaranya yang mukmin (yang telah mati) itu mengetahuinya dan menjawab salam kepadanya” [Al-Istidzkaar, 1/184].

Riwayat ini dishahihkan Ibnul-Qayyim dalam Badaa’iul-Fawaaid 2/173-174.

Kamis, 13 Oktober 2011

Antara Mencatat Dan Tak Mencatat Ilmu


Ilmu merupakan harta tak ternilai yang dimiliki manusia. Allah ta’ala telah meninggikan orang-orang yang mempunyai ilmu beberapa derajat dibandingkan selain mereka, sebagaimana firman-Nya :
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” [QS. Al-Mujaadilah : 11].

Salah satu sarana untuk memelihara ilmu adalah dengan menulisnya. Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :
قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ
“Ikatlah ilmu dengan kitab (yaitu : dengan menulisnya)” [Hadits shahih dengan keseluruhan jalannya sebagaimana diterangkan oleh Al-Albaaniy dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 2026].