Sabtu, 15 Desember 2012

Mengunakan Nama Samaran (tak dikenal)

Fenomena(1) menggunakan nama bukan dengan nama yang dikenal banyak terjadi di sebagian kalangan dengan berbagai alasan dan dorongan. Ada yang karena iseng atau karena namanya tidak kearaban, ia pun mengganti namanya dengan nama kearaban tanpa mengumumkan sebelumnya. Hal semacam ini banyak dijumpai di facebook, twitter, dan selainnya.

Lantas bagaimana dengan kun-yah(2)? Banyak orang yang salah faham dengan penggunaan kun-yah yang dianjurkan, menurut sebagian ulama. Mereka langsung menelan mentah-mentah hukum tersebut tanpa mempertimbangankan hadits-hadits yang melarang mengenakan nama yang tidak dikenal. Na’am, sah-sah saja mengenakan kun-yah jika memang kun-yah tersebut dikenal, adapun jika tidak, maka sebaiknya menyertakan namanya yang masyhur setelah atau sebelum kun-yahtersebut. Penjelasan lengkapnya akan datang, insya Allah.
Di kalangan ahli hadits, masalah semacam ini dibahas dalam bahasan tadlis. Dan tadlis termasuk perbuatan tercela menurut tradisi para ulama dengan bukti dha’ifnya riwayat mudallis (tukang tadlis). Kenapa demikian? Karena yang demikian itu termasuk penipuan dan pengkelabuhan serta penyembunyian jati diri dengan niat, yang boleh jadi, buruk. Allahua’lam.

Maka baiknya adalah memakai nama yang dikenal. Inilah yang dicontohkan Nabishollallohu ‘alaihi wa sallam yang kemudian diikuti para shahabatnya rodhiyallohu ‘anhum ajma’in. bahkan Jibril ‘alaihissalam pun menggunakan namanya tatkala ditanya “siapa di sana” oleh penjaga langit dalam peristiwa Isro’.

Imam Al Bukhori dan muridnya, Imam Muslim, ‘merekam’ sebuah hadits yang masyhur dalam pristiwa Isro’, dari Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu, beliau berkata, Rosululloh ﷺ bersabda, “Kemudian Jibril naik denganku ke langit dunia, ia meminta agar pintu dibukakan. Ada yang bertanya (yaitu penjaga pintu langit), ‘Siapa itu?’ ‘Saya Jibril,’ jawab Jibril. Ia ditanya (lagi), ‘Dan siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab, ‘Dia Muhammad.’ Lalu Ia naik ke langit kedua, ketiga, keempat, dan (ke langit) seluruhnya. Di setiap pintu langit selalu ada yang bertanya, ‘Siapa itu?’ Jibril pun selalu menjawab, ‘Jibril.’

Dalam hadits ini Jibril selalu mengenakan nama aslinya yang memang sudah dikenal dan diketahui dan ia tidak menggunakan nama samara ataupun nama lainnya yang tak dikenal.

Rosululloh ﷺ juga melakukan hal yang sama ketika ditanya “siapa itu.”

Lihatlah ketika Rosululloh ﷺ menulis surat untuk raja Romawi, Hiraclius. Surat itu berbunyi:

“Bismillahirrohmaanirrohiim.

Dari Muhammad putra ‘Abdulloh, hamba Allah dan rosul-Nya, untuk Heraclius, pembesar Romawi. Semoga keselamatan beserta siapa pun mengikuti petunjuk…” [HR Al Bukhori]

Al Bukhori dan Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Musa Al Asy’ari rodhiyallohu ‘anhu: “Ketika Nabi ﷺ duduk di sisi sumur kebun, datanglah Abu Bakr seraya meminta izin. Nabi ﷺ bertanya, ‘Siapa?’ Abu Bakr Menjawab, ‘Saya Abu Bakr.’ Kemudian datang ‘Umar seraya minta izin. Beliau ﷺ bertanya, ‘Siapa itu?’ Umar menjawab, ‘Saya ‘Umar.’ Berikutnya datang pula ‘Utsman yang juga melakukan hal yang sama.”

Abu Dzarr rodhiyallohu ‘anhu mengkisahkan, “Di suatu malam aku keluar (rumah). Seketika Rosululloh ﷺ berjalan seorang diri. Aku berjalan di bawah baying-bayang rembulan. Beliau pun menoleh dan memergokiku. Beliau bertanya, ‘Siapa itu?’ Aku menjawab, ‘Abu Dzarr.’” [HR Al Bukhori dan Muslim]

Dari Ummu Hani’ rodhiyallohu ‘anha, beliau menuturkan, “Aku mendatangi Nabi ﷺ, sedang ketika itu tengah mandi –dan Fathimah menutupinya-. Nabi bertanya, ‘Siapa itu?’ Aku menjawab, ‘Aku Ummu Hani’.’” [HR Al Bukhori dan Muslim]

Bahkan Nabi ﷺ membenci orang yang menyebutkan dirinya dengan sebutan yang tidak dikenal, sebagaimana cerita yang dikisahkan Jabir rodhiyallohu ‘anhu: “Aku mendatangi (rumah) Nabi ﷺ. Aku pun mengetuk pintu. Nabi bertanya, ‘Siapa?’ Aku menimpali, ‘Aku aku!’ Seakan-akan beliau membencinya.”

Perhatikanlah kesamaan orang yang mengenakan nama yang tidak dikenal dengan yang dialami shahabat Jabir di atas. Imam An Nawawi rohimahulloh membuat suatu judul dalam kitabnya, Riyadhush Sholihin: bab penjelasan bahwa yang sunnah adalah apabila ada yang bertanya kepada orang yang meminta izin: siapa Anda?, hendaknya ia menjawab: Fulan, ia menyebutkan nama aslinya yang dikenal berupa nama (asli) atau kun-yah, dan makruhnya mengatakan: saya.

Adapun tentang penyebutan kun-yah, maka dengarkanlah penjelasan Imam Abu Zakariya Yahya bin Syarof An Nawawi rohimahulloh dalam kitab dzikirnya, Al Adzkar An Nawawiyyah(3) (hal. 477, cet. Darul Minhaj KSA):

“Ini merupakan suatu bab yang lebih masyhur dari apa yang akan kami sebutkan di dalamnya berupa cuplikan yang manqul (haidits dan atsar), karena sesungguhnya dalil-dalilnya bersamaan dengan khowash (orang yang paham agama) dan awam. Termasuk adab adalah seseorang mengajak bicara orang yang mulia dan semisalnya, dengan memakai kun-yah. Demikian juga jika menulis surat yang ditujukan kepadanya, juga jika meriwayatkan suatu riwayat darinya. Maka hendaknya ia mengatakan: ‘Telah bercerita kepada kami Syaikh atau Imam Abu Fulan Fulan bin Fulan Al Fulani,’ dan semisalnya.

“Dan termasuk adab juga ialah seseorang tidak menyebutkan kun-yahnya di dalam karangannya dan tidak pula di selainnya, kecuali jika ia tidak dikenal kecuali dengankun-yahnya, atau kun-yah itu lebih masyhur ketimbang namanya sendiri. An Nahhas berkata, ‘Apabila kun-yah itu lebih masyhur, ia berkun-yah dengan yang sepadan dengannya dan bernama untuk orang yang di atasnya, kemudian diberi keterangan: yang terkenal dengan Abu Fulan.’ [Shona’atul Kitab (hal. 173)]”

Kesimpulannya: jika ada yang ingin berkun-yah: hendaknya ia menyertakan nama aslinya yang terkenal. Seperti Abu Ishaq Firman Hidayat bin Marwadi, atau bisa juga kun-yah diletakkan di akhir nama, sebagaimana kebiasaan Syaikh Dr. Bakr bin ‘Abdulloh Abu Zaid rohimahulloh.

Allohua’lam. Semoga sholawat beriringan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga, shahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat. []
____________________-

Footnote:

(1) Pembahasan ini kami tulis karena pengalaman kami sendiri. Ketika guru kami, Al Ustadz Aris Muanandar (UstadzAris.Com), menegur perbuatan kami dalam sebuah tullisan di Muslim.Or.Id. “Tulisan Antum di Muslim.Or.Id koq pakai tadlis?,” demikian tegur beliau kepada kami, karena memang di tulisan itu tertulis: “Ditulis: Ibnu Mawardi”

(2) Kun-yah (اَلْكُنْيَةُ) adalah sebuah nama yang diawali dengan kata-kata abu (bapak) atau ummu (ibu). Contohnya: Abu Al Qosim (kun-yah Nabi Muhammad), Abu Al ‘Abbas (kun-yah Ibnu Taimiyyah), Ummu Hani, Ummu Abdulloh (kun-yah Ibunda ‘Aisyah), dan seterusnya.

(3) Nama lengkap untuk kitab Al Adzkar ialah Al Adzkar min Kalam Sayyidil Abror(dzikir-dzikir dari Nabi) atau Hilyatul Abror wa Sya’arul Akhyar fi Talkhish Ad Da’awat wal Adzkaril Mustahabbah fil Lail wan Nahar. Perkataan di atas diberi judul An Nawawi dengan: bab bolehnya berkun-yah. Wal hasil, berkun-yah, menurut An Nawawi dan ulama yang sependapat, adalah mubah.

0 komentar:

Posting Komentar